Kesenian Sintren, Tak Lekang Oleh Waktu

Kesenian Sintren di Expo Gandrungmangu
Kesenian Sintren di Expo Gandrungmangu

ReOnkPost, Bantarsari – Sintren atau juga dikenal dengan Lais adalan salah satu kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon Jawa Barat.

Meski demikian, Kesenian ini juga terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Subang utara, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, dan Kuningan.

Sedangkan di Banyumas sendiri juga terdapat kesenian serupa yang bernama Lengger.

Diketahui, bahwa Kesenian Sintren dikenal sebagai suatu seni tarian dengan nuansa beraroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sintren diperankan oleh seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang.

Gadis tersebut dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berselebung kain.

Pawang/dalang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantra memanggil ruh Dewi Lanjar.

Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan tampil atau muncul dari kurungan sudah berdandan cantik, lalu menari diiringi gending.

Kesenian ini rupanya di Cilacap juga masih dilestarikan, seperti di Pertunjukan Sintren “Ngudi Laras” di salah satu kegiatan Expo di Gandrungmangu.

Pertunjukan Seni ini masih diminati masyarakat Gandrungmangu, terbukti dengan hadirnya banyak warga ke acara Expo pada Rabu malam (06/07/2022).

Sugiyono, salah satu pengurus Expo menegaskan, bahwa selain untuk menghibur para pengunjung Expo, Ia ingin nguri uri salah satu budaya lokal yang masih ada di Kecamatan Gandrungmangu sampai saat ini.

Sedangkan Sejarah Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yang pertama, hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar.

Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak.

Namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari.

Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait